Wahai
Rasulullah! Bagaimana pendapatmu jika kami punya amir (dimana mereka)
menahan hak kami dan mereka meminta haknya dari kami? Maka beliau
menjawab: (Hendaknya kalian) dengar dan taati mereka, karena hanyalah
atas mereka apa yang mereka perbuat, dan atas kalian yang kalian
perbuat.
(HR. Muslim no. 1846 dari hadits Asyats bin Qais)
2. Dari Hudzaifah bin Yaman berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
Akan
ada sepeninggalku nanti para pemimpin yang tidak mengambil petunjukku,
dan tidak mengambil sunnah dengan sunnahku. Akan muncul (pula)
ditengah-tengah kalian orang-orang (dikalangan penguasa) yang hatinya
adalah hati syaithan dalam wujud manusia. Aku (Hudzaifah) bertanya: Apa
yang harus saya perbuat jika aku mendapatinya? Beliau bersabda:
(Hendaknya) kalian mendengar dan taat kepada amir, meskipun dia memukul
punggungmu dan merampas hartamu.
(Hadits shahih riwayat Muslim dalam Shahihnya no. 1847 (52))
3. Dari Adi bin Hathim ra. berkata:
Kami
bertanya:Ya Rasulullah, kami tidak bertanya kepadamu tentang (ketaatan)
kepada (amir) yang bertaqwa, akan tetapi bagaimana yang berbuat
(demikian) dan berbuat (demikian) (Adi bin Hathim menyebutkan perbuatan
yang jelek)? Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
Bertaqwalah kepada Allah dan (tetaplah) mendengar dan taat (kepada
mereka).
4. Dari Abu Hurairah ra. dia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
Wajib
bagi kamu mendengar dan taat baik dalam keadaan sulit ataupun mudah,
semangat ataupun tidak suka, walaupun ia sewenang-wenang terhadapmu.
(HR. Muslim)
5. Dari Ibnu Umar ra. berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
Wajib
atas seorang muslim (untuk) mendengar dan taat (kepada pemimpin) pada
apa yang ia sukai ataupun yang ia benci, kecuali kalau ia diperintah
(untuk) berbuat maksiat, maka tidak ada mendengar dan taat.
(HR. Bukhari dan Muslim)
6. Dari Muawiyah berkata:
Tatkala
Abu Dzar keluar ke Ribdzah, dia ditemui sekelompok orang dari Irak,
kemudian mereka berkata: Wahai Abu Dzar, pancangkanlah bendera (perang)
untuk kami, niscaya akan datang orang-orang yang membelamu. (Maka) Abu
Dzar berkata: Pelan-pelan (bersabarlah) wahai Ahlul Islam, sesungguhnya
aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
Akan
ada sepeninggalku seorang sulthan (pemimpin), muliakanlah dia, maka
barangsiapa mencari-cari kehinaannya, berarti dia telah melubangi Islam
dengan satu celah dan tidak akan diterima taubatnya sampai dia mampu
mengembalikannya seperti semula.
(Hadits Shahih riwayat Ahmad, Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dhilal)
7. Dari Abi Bakrah ra. berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
Sulthan
adalah naungan Allah dimuka bumi, barangsiapa menghinanya, maka Allah
akan menghinakan dia (orang yang menghina sulthan), dan barangsiapa
memuliakannya, niscaya Allah akan memuliakan dia.
(Hadits
shahih riwayat Ibnu AbiAshim, Ahmad, At-Thoyalisi, Tirmidzi dan Ibnu
Hibban. Dihasankan Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dhilal no. 1017 dan 1023,
dan dalam As-Shahihah 2297)
8. Dari Ziyad bin Kusaib Al-Adawi beliau berkata:
Dulu
aku pernah bersama Abi Bakrah berada dibawah mimbar Ibnu Amir dan
beliau sedang berkhutbah sambil mengenakan pakaian tipis. Kemudian Abu
Bilal berkata: Lihatlah oleh kalian pada pemimpin kita, dia mengenakan
baju orang-orang fasiq. Lantas Abi Bakrah pun langsung angkat bicara:
Diam kamu! Saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
bersabda:
Barangsiapa yang menghinakan penguasa Allah di muka bumi niscaya Allah menghinakannya.
(Tirmidzi dalam sunannya (2225))
9. Didalam At-Tarikh AL-Kabir (7/18) oleh Al-Bukhari dari Aun As-Sahmy beliau berkata:
Janganlah
kalian mencela Al-Hajjaj (Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi) karena dia
adalah pemimpin kalian dan dia bukan pemimpinku. Adapun ucapan beliau:
dia bukan pemimpinku, karena Abu Umamah tinggal di Syam sedangkan
Al-Hajjaj pemimpin Iraq.
10. Dikitab yang sama (8/104) Imam Bukhari meriwayatkan dari Abi Jamrah Ad-DhobiI, beliau berkata:
Tatkala
sampai kepadaku (khabar) pembakaran rumah, lalu aku keluar menuju
Makkah dan berkali-kali aku mendatangi Ibnu Abbas sampai beliau
mengenaliku dan senang kepadaku. Lalu aku mencela Al-Hajjaj di depan
Ibnu Abbas sampai beliau berkata: Janganlah kamu menjadi penolong bagi
syaithan.
11. Hannad mengeluarkan (riwayat) dalam Az-Zuhd (II/464):
Abdah
menceritakan kepada kami dari Az-Zibriqan, berkata, Aku pernah berada
disisi Abu Wail Syaqiq bin Salamah lalu au mulai mencela Al-Hajjaj dan
au sebutkan kejelekan-kejelekannya. Lantas beliau berkata, Janganlah
engkau mencercanya, siapa tahu barangkali dia berdoa, Ya Allah,
ampunilah aku, kemudian Allah mengampuninya.
12.
Dari Ibnu Abi Dunya mengeluarkan dalam kitab Ash-Shamtu wa Adabu Lisan
hal 145 dan juga Abu Nuaim dalam Al-Hilyah (5/41-42) dari Zaid bin
Qudamah beliau berkata: Saya berkata kepada Manshur bin Al-Mutamar:
Jika aku puasa apakah aku boleh mencela sulthan (penguasa/pemimpin)?
Beliau berkata: Tidak boleh.
Lalu aku terus bertanya apakah aku boleh mencela Ahli Ahwa (para pengekor hawa nafsu/Ahlul Bidah)?
Beliau menjawab: YA! (boleh).
13. Ibnu Abdil Barr telah mengeluarkan dalam At-Tamhiid (XXI/287) dengan sanadnya dari Abu Darda ra. bahwa ia berkata,
Sesungguhnya awal terjadinya kemunafikan pada diri seseorang adalah cacimakiannya terhadap pimpinan/pemerintahnya.
14. Ibnu Ab Syaibah rahimahullahu taala berkata dalam Al-Mushannaf XV/75 & II/137-138:
Ibnu Uyainah menceritakan kepada kami dari Ibrahim bin Maisarah dari Thawus, berkata,
Pernah
disebutkan (nama-nama) para pemimpin negara dihadapan Ibnu Abbas, lalu
seseorang sangat bersemangat mencacimaki kehormatan mereka.
Lalu
dia lakukan demikian sambil meninggi-ninggikan (badannya),
sampai-sampai dirumah itu aku tida melihat orang yang lebih tinggi
daripadanya. Kemudian aku mendengar Ibnu Abbas ra. berkata, Janganlah
engkau jadikan dirimu sebagai fitnah (pemicu kekacauan) bagi orang-orang
yang zhalim.
Maka
serta merta orang tersebut merendahkan tubuhnya sampai-sampai dirumah
tersebut aku tidak melihat orang yang lebih rendah / merendahkan
tubuhnya daripadanya.
15. Dari Ummu Salamah r.a. berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
Akan
ada sepeninggalku nanti pemimpin (yang) kalian mengenalnya dan
mengingkari (kejelekannya), maka barangsiapa mengingkarinya (berarti)
dia telah berlepas diri, dan barangsiapa membencinya (berarti) dia telah
selamat, akan tetapi barangsiapa yang meridhoinya (akan) mengikutinya.
Mereka para sahabat bertanya: Apakah tidak kita perangi (saja) dengan
pedang? Beliau menjawab: Jangan, selama mereka masih menegakkan shalat
ditengah-tengah kalian.
(HR. Muslim 6/23)
16. Dari Said Al-Khudri beliau berkata: Bersabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:
Akan
ada nanti para penguasa yang kulit-kulit kalian menjadi lembut terhadap
mereka dan hati-hati pun menjadi tenang kepada mereka. Kemudian akan
ada para penguasa yang hati-hati (manusia) akan menjadi benci kepada
mereka dan kulit-kulit pun akan merinding ketakutan terhadap mereka.
Kemudian ada seorang lelaki bertanya: Wahai Rasulullah, tidakah kita
perangi saja mereka? Beliau bersabda: Jangan, selama mereka masih
menegakkan shalat ditengah-tengah kalian.
(As-Sunna Ibnu Abi Ashim hal. 498)
17. Dari Ubadah bin As-Shamit ra., beliau menceritakan:
Kami
membaiat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam untuk mendengar dan
taat (kepada pemerintah muslimin) dalam keadaan kami senang atau benci
kepadanya, dalam keadaan kesulitan atau kemudahan, dan dalam keadaan
kami dirugikan olehnya, dan tidak boleh kita memberontak kepada
pemerintah. Kemudian beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
Kecuali kalau kalian melihat kekafiran yang nyata dan kalian mempunyai
bukti dari Allah pada perbuatan pemerintah tersebut.
(HR. Bukhari dan Muslim)
18. Dari Ibnu Umar ra. berkata:
Seseorang datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam lalu bertanya:
Wahai
Arsulullah, berwasiatlah kepada kami. Maka Rasulullah Shallallahu
Alaihi Wasallam bersabda: Dengarlah, taatlah, wajib bagi kalian dengan
(sikap) terang-terangan (terbuka), dan hati-hatilah kalian dari
(rencana) rahasia.
(Hadits shahih riwayat Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dhilal)
19. Dari Anas berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
Sepeninggalku
nanti kalian akan menemui atsarah (pemerintah yang tidak menunaikan haq
rakyatnya-ed) maka bersabarlah sampai kalian menemuiku.
(HR. Bukhari dan Muslim)
20. Dari Anas bin Malik berkata:
Para
pembesar kami dari kalangan sahabat Muhammad Shallallahu Alaihi
Wasallam melarang kami. Mereka berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi
Wasallam bersabda:
Janganlah
kalian mencela pemimpin-pemimpin kalian, janganlah kalian dengki kepada
mereka dan janganlah kalian membenci mereka, (akan tetapi) bertaqwalah
kepada Allah dan bersabarlah, sesungguhnya perkaranya (adalah) dekat.
(Hadits shahih riwayat Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dhilal, hal 474 no. 1015)
21. Dari Abdullah bin Abbas ra. bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
Barangsiapa
melihat sesuatu yang ia benci ada pada pemimpinnya maka hendaklah ia
bersabar, karena barangsiapa melepaskan diri dari Al-Jamaah meskipun
sejengkal maka ia mati dalam keadaan jahiliyyah.
(HR. Bukhari dan Muslim)
22. Dalam riwayat Muslim:
Barangsiapa
membenci sesuatu dari pemimpinnya (pemerintah) maka hendaklah ia
bersabar. Karena tida ada seorang manusiapun yang keluar dari
(kekuasaan) penguasa meskipun sejengkal lalu dia mati dalam keadaan
demikian, melainkan matinya tak lain dalam keadaan mati jahiliyyah.
Wallahu A’lam Bish-Shawab.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar