Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN DAN MOTIVASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN DAN MOTIVASI. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Juli 2013

KOMPARASI KONSEP FAHSYA’ dan MUNGKAR dalam AL QUR’AN

  1. PENDAHULUAN
Allah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia yang bertugas sebagai khalifah di bumi. Al Qur’an telah sempurna mengatur setiap detil kehidupan manusia baik dengan sesamanya ataupun dengan lingkungan sekitarnya. Begitu sempurnanya Allah menciptakan Al Qur’an hingga tidak ada manusia bisa membuat satu ayat saja yang serupa dengn alqur’an. Allah berfirman dalam Albaqara:23-24
وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ
Artinya: Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlahsatu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) – dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.”
Banyak keajaiban yang dapat kita temukan dalam Al Qur’an. Selain hukumnya yang selalu relevan sepanjang zaman dan untuk seluruh alam, problem atau isi Al Qur’an pun selalu sesuai dengan realita, substansinya mencakup segala aspek kehidupan manusia seperti hukum keluarga, politik, ekonomi bahkan science.
Salah satu keajaiban Al Qur’an  adalah Allah selalu konsisten dalam menggunakan suatu kata dalam Al Qur’an. Meskipun ma’nanya sekilas hampir sama seperti kata fahsya’, munkar, kadziba, dzalim dll. Namun ketika diteliti lebih dalam dan digali lagi dari berbagai rujukan sebagai perbandingan, ternyata tiap kata yang hampir sema’na itu mempunyai kriteria berbeda yang Allah selalu konsisten ketika menggunakannya dalam beberapa ayat dalam  Al Qur’an.
Oleh karena itulah penulis ingin mengangkat masalah perbedaan kata fahsya’ dan munkar dalam Al Qur’an. Serta mengkaji kedua kata itu dengan pendekatan induktif, yakni mengumpulkan ayat-ayat yang terdapat kata fahsya’ dan munkar sehingga dapat ditarik satu kesimpulan apa yang membedakan kata fahsya’ dan munkar ketika Allah swt menyebutkan keduanya dalam Al Qur’an.

Jumat, 17 Mei 2013

Keutamaan Tawakkal

Allah berfirman,
“Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-oang Mukmin bertawakal”. (Ali Imran: 122)
“Dan, barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya”. (Ath-Thalaq: 33)
Di dalam hadits diriwayatkan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyebutkan bahwa di antara umatnya ada tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab. Kemudian beliau bersabda,
“Yaitu mereka yang tidak membual, tidak mencuri, tidak membuat ramalan yang buruk-buruk dan kepada Rabb mereka bertawakal”. (Diriwayatkan Al-Bukhary dan Muslim)
Dari Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Andaikan kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Dia kan menganugerahkan rezki kepada kalian sebagaimana Dia menganugerahkan rezki kepada burung, yang pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar, lalu kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang.”*)
Diantara doa yang dibaca Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah:
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon taufik kepada-Mu untuk mencintai-Mu daripada amal-amal, kebenaran tawakal dan baik sangka kepada-Mu”. (Hadits mursal, diriwayatkan Abu Nu’aim)

Jumat, 19 April 2013

Menuju Akhlak yang Mulia

(Oleh: Amien. M. Ryzal / Buletin Al-Ilmu)

Belakangan ini kita sering mendengar berita-berita tentang banyaknya akhlak-akhlak para pemuda yang rusak. Di lingkungan pelajar dan mahasiswa misalnya, sering kita dengar tawuran antar pelajar, siswa-siswi yang tidak berakhlak, dan pergaulan bebas. Oleh karena itu siapapun yang mendambakan keselamatan dan keberuntungan dalam hidupnya, tidak ada jalan lain baginya kecuali dengan tazkiyatun nufus (penyucian jiwa). Menyucikan diri dari kefasikan, keburukan amalnya dan akhlak yang buruk.

Bagaimanakah cara dan metode menyucikan diri yang benar? Adakah metode-metode yang khusus yang lazim dilakukan oleh orang yang akan memperbaiki akhlaknya? Apakah pengalaman pribadi, perasaan seseorang dan bisikan hati bisa dijadikan landasan amal dalam hal ini?
Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam. Dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan oleh manusia tanpa petujuk dari Rasul mereka. Tidak terkecuali dalam masalah perbaikan akhlak, hendaknya kita kembalikan kepada petunjuk Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam, sebagai satu-satunya manusia yang ahli di bidang tersebut.
Ketahuilah wahai saudaraku seiman, sesungguhnya memperbaiki akhlak dengan tujuan membentuk akhlak yang mulia merupakan faktor utama bagi kekuatan dan keagungan umat. Sesungguhnya nilai suatu umat itu terdapat pada akhlaknya. Jika akhlak itu hilang maka hilang pula nilai umat tersebut. Karena itulah perbaikan akhlak memiliki peranan yang sangat penting, karena dia sangat berpengaruh bagi baik atau buruknya suatu umat.

Rabu, 17 April 2013

Muraqabah (Intensitas Pengawasan Allah Terhadap Hamba-Nya)

Allah Ta'ala berfirman:
"Dialah yang melihatmu ketika engkau berdiri dan juga gerak tubuhmu di antara orang-orang
yang bersujud." (asy-Syu'ara': 218-219)

Allah Ta'ala berfirman pula:
"Dan Dia adalah besertamu di mana saja engkau semua berada." (al-Hadid: 4)

Allah Ta'ala berfirman lagi:
"Sesungguhnya bagi Allah tidak ada sesuatu yang tersembunyi baik di bumi ataupun di
langit."(ali-lmran: 5)

Lagi firmannya Allah Ta'ala:
"Sesungguhnya Tuhanmu itu niscaya tetap mengintipnya." (al-Fajar: 14)

Juga firmannya Allah Ta'ala:
"Dia Maha Mengetahui akan kekhianatan mata - maksudnya pandangan mata kepada sesuatu
yang diiarang atau kerlingan mata sebagai ejekan dan lain-lain perbuatan yang tidak baik - dan apa
saja yang tersembunyi dalam hati.” (al-Mu'min: 19)

Ayat-ayat yang mengenai bab ini banyak sekali dan kiranya dapat dimaklumi.

Adapun Hadis-hadisnya ialah:
60. Pertama: Dari Umar bin Alkhaththab r.a., katanya: "Pada suatu ketika kita semua
duduk di sisi Rasulullah s.a.vv. yakni pada suatu hari, tiba-tiba muncullah di muka kita
seorang lelaki yang sangat putih pakaiannya dan sangat hitam warna rambutnya, tidak
timpak padanya bekas bepergian dan tidak seorangpun dari kita semua yang mengenalnya,
sehingga duduklah orang tadi di hadapan Nabi s.a.w. lalu menyandarkan kedua lututnya
pada kedua lutut beliau dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya sendiri dan
berkata: "Ya Muhammad, beritahukanlah padaku tentang Islam." Rasulullah s.a.w. lalu
bersabda:

"Islam, yaitu hendaknya engkau menyaksikan bahwa tiada piihan kecuali Allah dan
bahwa Muhammad adalah utusan Allah, hendaklah pula engkau mendirikan shalat,
menunaikan zakat, berpuasa bulan Ramadhan dan melakukan haji ke Baitullah jikalau
engkau kuasa jalannya ke situ."  Orang itu berkata: "Tuan benar."

Minggu, 07 April 2013

JIKA KAMU BERTAWAKKAL SEPERTI TAWAKKALNYA BURUNG

Allah befirman berkaitan dengan tempat persinggahan tawakkal ini,
وعلى الله فتوكلوا إن كنتم مؤمنين   
 "Dan, hanya kepada Allah hendaknya kalian bertawakkal, jika kalian benar-benar orang yang beriman." (Al-Maidah: 23).
Allah befirman kepada Rasul-Nya,
فإذا عزمت فتوكا على الله، إن الله يحب المتوكلين
 "Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakal lah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya." (Ali Imran: 159).
Masih banyak firman Allah yang menjelaskan tawakkalnya para nabi, rasul dan orang-orang yang beriman. Silahkan lihat Al Qur'an surat 14: 12; surat 65: 3; surat 60: 4; 25: 58; surat 14: 12; surat 3: 173, dll.
(وعلى الله فليتوكل المؤمنون)  ،  (ومن يتزكل على الله فهو حسبه) ،
(وتوكل على الحي الذي لا يموت وسبح بحمده) ، (ربنا عليك توكلنا  ,إليك أنبنا وإليك المصير)

Di dalam Ash-Shahihain disebutkan hadits tentang tu juh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab. Mereka adalah orang-orang yang tidak mempercayai mantra, tidak meramal yang buruk-buruk, tidak mengobati dengan sundutan api, dan hanya bertawakal kepada Allah.
Di dalam Shahih Al-Bukhary disebutkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, dia berkata,
حسبنا الله ونعم الوكيل
"Hasbunallah wa ni'mal-wakil", diucapkan Ibrahim Alaihis-Salam, ketika beliau dilemparkan ke kobaran api, dan juga dikatakan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, saat orang-orang berkata kepada beliau,
إن الناس قد جمعوا لكم فاخشوهم ، فزادهم إيمانا، وقالوا حسبنا الله ونعم الوكيل
"Sesungguhnya manusia (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka".

SYUKUR SETENGAH DARI IMAN

الإيمان نصفان : نصف شكر ونصف صبر.
Ibnu mas`ud radliyallahu `anhu berkata, bahwa syukur itu setengah dari agama dan setengahnya lagi adalah sabar.
وحقيقة الشكر : فعل المأمور ، وحقيقة الصبر : ترك المحظور
Hakikat syukur adalah “fi`lul ma’mur” (mengerjakan yang diperintahkan oleh Allah dan menjaga sunnah-sunnah Nabi-Nya Shallallu `alaihi wa sallam). Sedangkan hakikat Sabar itu adalah “tarkul mahzhur” (meninggalkan yang dilarang oleh syari`at Allah), tidak melanggar larangan Allah dan menyelisihi sunnah Nabi-Nya Shallallahu `alaihi wa sallam. (`Uddatush shabirin wa Dakhiratusy Syakirin, Ibnul Qayyim al Jauziyah, hal. 140).

Asal Makna Syukur:
Asal makna syukur menurut bahasa adalah ia;lah tampaknya bekas (pengaruh) makanan ada tubunh binatang dengan jelas.
Di dalam shahih Muslim disebutkan suatu riwayat yang berbunyi:
حتى إن الدواب لتشكر من لحومهم.
“Sehingga binatang-binatang itu bersyukur dagingnya”.
Syukur termasuk tempat persinggahan yang paling tinggi , di atas tingikatan ridla. Dan bahkan Ridha itu sendiri merupakan satu tahapan dalam syukur. Mustahil ada “syukur” tanpa ada “ridla”.
Allah memerintahkan syukur dan melarang kebalikannya, memuji pelakunya, mensifatinya sebagai makhluk-Nya yang khusus, menjanjikan kepadanya dengan pahala yang baik, menjadi kan syukur sebagai sebab untuk mendapatkan tambahan karunia-Nya, memelihara dan menjaga nikmat-Nya.

Sabtu, 06 April 2013

HATI YANG HIDUP MELAHIRKAN MALU HATI

"Sifat Malu atau al-Haya'" merupakan bagian terpenting yang
tak terpisahkan dari "Muraqabah" (sejauh mana seorang hamba itu merasa berada di bawah pengawasan Allah Subhanahu wa Ta`ala).
Syaikh Ibrahim at Tuwaijiri hafizhahullah mengatakan, bahwa ada dua hal yang melahirkan “Malu” pada diri hamba, yaitu : ru’yatul aala’ dan ru’yatul taqshir (hamba merasa pada dirinya terdapat serba kekurangan dan kehinaan)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata (Dalam Madarijus salikin,jilid : II, fasal al Haya' hal. 258):
Malu itu selalu berdampingan dengan kebaikan (al-khair), karena hamba yang memiliki sifat malu itu selalu merasakan ada pengawasan Allah kapanpun dan dimanapun berada.

Beliau membahas masalah "al Haya' " ini di dalam kerangka manzilah "Iyyaka Na`budu wa Iyyaka Nasta`in".  

منـزلة (الحياء) من منازل (إياك نعبد وإياك نستعين)
Allah Subhanahu wa Ta`ala berfirman :
(ألم يعلم بأن الله يرى)
"Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat (segala perbuatannya)?" (Al-Alaq: 14).
(إن الله كان عليكم رقيبا)
Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. QS An Nisa' : 1
(يعلم خاشنة الأعين وما تخفى الصدور) المؤمن 19
"Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati."  

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda,
الإيمان بِضْعٌ وسبْعُونَ شُعْبَةٌ – أو بِضْع وسِتُّون شُعْبة – فأَفْضَلُهَا : قَوْلُ لا إله إلا الله . وَ أَدْنَاهَا إِماطَةُ الأذَى عَنِ الطَّرِيْقِ, والحياءُ  شُعْبَةٌ مِنَ الإيْمَانِ
"Iman itu ada tujuh puluh cabang lebih, atau enam puluh cabang le-bih. Yang paling utama adalah perkataan la ilaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan rasa malu itu cabang dari iman."

Jumat, 05 April 2013

CUKUPLAH KEMATIAN SEBAGAI PELAJARAN

Tsabit al-Bunani rahimahullah berkata, “Beruntunglah orang yang senantiasa mengingat waktu datangnya kematian. Tidaklah seorang hamba memperbanyak mengingat kematian kecuali akan tampak buahnya di dalam amal perbuatannya.”

Jangan Sampai Allah Melupakan Kita
Dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada hari kiamat didatangkan seorang hamba. Kemudian dikatakan kepadanya: “Bukankah telah Aku berikan kepadamu pendengaran, penglihatan, harta, dan anak? Aku tundukkan untukmu binatang ternak, tanam-tanaman. Aku tinggalkan kamu dalam keadaan menjadi pemimpin dan mendapatkan seperempat hasil rampasan perang. Apakah dulu kamu mengira akan bertemu dengan-Ku pada hari ini?” Orang itu menjawab, “Tidak.” Allah pun berkata, “Kalau begitu pada hari ini Aku pun melupakanmu.” (HR. Tirmidzi, beliau berkata: hadits sahih gharib, lihat al-Ba’ts karya Ibnu Abi Dawud, hal. 36-37)
Hadits ini mengingatkan kita tentang dahsyatnya hari kiamat. Betapa butuhnya seorang hamba terhadap pertolongan Allah ketika itu.
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku maka dia akan mendapatkan penghidupan yang sempit dan Kami akan mengumpulkan dia pada hari kiamat dalam keadaan buta. Dia berkata: “Wahai Rabbku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta padahal dulu aku bisa melihat?”. [Allah menjawab] Demikianlah yang pantas kamu dapatkan, sebab telah datang kepadamu ayat-ayat Kami tetapi kamu justru melupakannya. Maka, pada hari ini kamu pun dilupakan.” (QS. Thaha: 124-126)

Senin, 01 April 2013

Allah Tidak Ditanya, Justru Engkaulah Yang Akan Ditanya

Ketika engkau dilanda kegalauan, kegelisahan, dan engkau merasa bahwa Allah tidak adil dalam menetapkan taqdir-mu, dan engkaupun mulai bertanya-tanya dan ingin meluapkan kekesalan dengan berteriak kepada Allah, “Yaa Allah, mengapa ini terjadi??”.

Wahai jiwa yang resah, jika engkau masih memiliki keimanan terhadap al-Qur’anul Karim, maka bukalah mushaf milikmu, renungilah bahwasanya Allah berfirman,
لاَ يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ
“Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai”. QS. Al Anbiya’: 23.
Terserah Allah ingin berbuat dan berkehendak seperti apa,
فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ
“Maha Kuasa Berbuat apa yang dikehendaki-Nya”. (QS. Al-Buruj: 16)
Oleh karena itu, tidaklah layak seorang muslim banyak menanyakan taqdir Allah, justru hendaknya dia-lah yang mempersiapkan dirinya sendiri untuk ditanya oleh Allah kelak. Siapkah kita dengan 4 hal yang akan ditanyakan kepada kita kelak? sebagaimana sabda Nabi kita -shallallahu’alaihi wa sallam-:
لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ جَسَدِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا وَضَعَهُ وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ فِيهِ
“Tidak akan bergeser tapak kaki seorang hamba pada hari Kiamat, sampai ia ditanya tentang empat perkara. (Yaitu): tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang jasadnya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya darimana ia mendapatkannya dan kemanakah ia membelanjakannya, dan tentang ilmunya, apakah yang telah ia amalkan”. [HR At Tirmidzi dan Ad Darimi].
Semoga Allah senantiasa memberi kita hidayah….

10 PENYEBAB HATI MATI

Syaik Al Balkhi berkata,” Suatu saat Ibrahim Bin Adham berjalan di pasar Basrah, maka orang yang mengetahui kedatangannya berkumpul mengerumuninya. Di antara mereka ada yang beertanya tentang firman Allah swt,” Berdoalah kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkan doa kalian.” (terjemahan QS. Al Mukmin:40)
Orang yang bertanya itu selanjutnya berkata,” Paadahal kami sudah sering berdoa, tetapi Allah tetap tidak mengabulkan doa kami.”
Ibrahim bin Adham berkata,”Wahai penduduk Basrah, sesungguhnya hati kalian telah mati oleh sepuluh sebab, maka bagaimana mungkin Allah mengabulkan doa kalian. Kesepuluh sebab yang menyebabkan hati kalian mati adalah:

1. Kalian mengenal Allah tetapi tidak mau menunaikan hak-Nya (tidak mau melaksanakan perintah-Nya dan tidak mau menjauhi dan meninggalkan larangann-Nya)
2. Kalian suka membaca kitab Allah tetapi tetap tidak mau mengamalkannya,
3. Kalian mengetahui bahwa iblis itu musuh tetapi tetap mengikuti perintahnya,
4. Kalian menyatakan cinta kepada Rasulullah saw, tetapi meninggalkan Sunnahnya,
5.Kalian menyatakan cinta surga, tetapi tidak mau mengamalkan amalan ahli surga,
6.Kalian mengakui takut siksa neraka, tetapi tetap saja berbuat dosa,
7.Kalian mengakui bahwa kematian itu haq (benar), tetapi tidak pernah menyiapkan bekal untuk menghadapinya,
8. Kalian selalu memperhatikan aib orang lain, tetapi tidak mau memperhatikan aib diri sendiri,
9.Kalian senang makan rizki Allah, tetapi tidak pernah bersyukur kepada-Nya,
10.Kalian sering mengubur orang mati, tetapi tidak mau mengambil pelajaran darinya.